Minggu, 13 Maret 2011

Kata-Kata Bijak

Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya
(Khalifah Ali bin Abi Talib)

Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.
(Khalifah Ali bin Abi Talib)

Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.
(Khalifah Ali bin Abi Talib)

Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani.
(Khalifah Ali bin Abi Talib)

Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
(Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-

Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari.
(Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi darinenek moyang.
(Khalifah Ali bin Abi Thalib)

Tujuan Pokok diutus Rosul



Tujuan pokok diutusnya Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam kepada umat manusia adalah untuk menyeru umat manusia kepada tauhidullah, yaitu mengesakan Allah dalam segenap bentuk peribadatan dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Di samping itu, beliau dibebani tugas untuk menyampaikan syariat Islam kepada umatnya sehingga umat manusia hidup di bawah petunjuk (wahyu) dari Allah. Di antara syariat yang diajarkan Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Barangsiapa yang melaksanakan syariat, petunjuk, dan ajaran-ajaran beliau dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba- nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah, sebagaimana firman Allah di dalam Alquran surat Ali Imran ayat 31, artinya:
Katakanlah, 'Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 Dan dia juga melaksanakan perintah Rasulullah dalam sabdanya, artinya: Shalatlah kalian sebagaimana kamu melihat aku shalat. Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf di antaranya sabda Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam, artinya: Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Tuhan mereka? Maka kami berkata, Wahai Rasulullah, bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Tuhan mereka? Beliau menjawab, Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan. [H.R. Muslim, an-Nasai, dan Ibnu Khuzaimah]. Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari an-Numan bin Basyir, dia berkata, artinya: Dahulu Rasullullah shollallahu alaihi wa sallam meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau mengaggap kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shaf kami telah rapi -pent.). Kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat), lalu berdiri hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda, Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian. [H.R. Muslim]. Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas, beliau bersabda shollallahu alaihi wa sallam, artinya: Tegakkan [luruskan dan rapatkan, -pent.] shaf-shaf kalian karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku. [H.R. al-Bukhari dan Muslim]. Dan dalam riwayat al-Bukhari, Anas berkata, Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya ke bahu temannya dan kakinya ke kaki temannya. Sedangkan dalam riwayat Abu Yala, Anas berkata, Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar, yaitu dia akan lari darimu. Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya perkara meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam, artinya:
Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat. Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syaikh al-Albani dalam mengomentari sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam: '& atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian,' Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak akan dikatakan dalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu di kalangan ahli ilmu, -pent.]. Akan tetapi, sungguh amat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin Syaikh Masyhur Hasan Salman berkata, Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan an-Numan, maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf.


Dan pada kenyataannya kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf, maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, -pent.], khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka: Pertama, mereka terjerumus dalam larangan syari, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf. Kedua, mereka meninggalkan celah untuk syaithan, dan Allah ta'ala akan memutuskan mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Umar bin al-Khaththab bahwa Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, artinya: Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa memutus shaf, niscaya Allah akan memutuskannya. [H.R. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim]. Ketiga, terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits an-Numan. Dalam hadits tersebut terdapat satu faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu sesungguhnya rusaknya lahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Di samping itu, bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya. Keempat, mereka kehilangan pahala yang besar yang dikabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam, artinya: Sesunguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf. [H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban, dan Ibnu Khuzaimah]. Dan sabda Nabi yang shahih, artinya:

Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya [H.R. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]. Dan sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam yang lain, artinya: Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya, -pent.) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya. [H.R. ath-Thabrani, al-Bazzar, dan Ibnu Hiban]. Semoga risalah yang singkat ini dapat memberikan motivasi kepada kita semua untuk melaksanakan sunnah Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam dalam shalat berjamaah. Amin.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best CD Rates